"Yuk Gan Luwangkan 1 Menit Buat Istigfar bagi yang Muslim"

LSF Tekankan Pentingnya Budaya Sensor Mandiri

LSF Tekankan Pentingnya Budaya Sensor Mandiri – Walaupun setiap masyarakat Indonesia berhak untuk mendapatkan hak-haknya, namun mereka juga tetap harus menjalankan kewajibannya. Oleh karena itulah, dibentuklah sebuah peraturan yang bersifat mengikat dan harus dipatuhi, agar masyarakat Indonesia mampu menjadi individu-individu yang baik, sesuai dengan jati diri bangsa yang sebenarnya. Peraturan tersebut juga dibuat oleh LSF yang merupakan Lembaga Sensor Film. Pasalnya, pihak dari LSF tekankan pentingnya budaya sensor mandiri di Indonesia.

Budaya Sensor Mandiri

Hal ini disebabkan karena dunia berfilman atau pertelevisian tak hanya bisa dilihat oleh usia tertentu saja, melainkan dapat dilihat oleh publik segala usia. Kita semua sudah mengetahui bahwa, ada banyak sekali tayangan-tayangan bebas yang dipertontonkan di Indonesia. Bayangkan saja, jika tayangan-tayangan tersebut terus saja disaksikan oleh anak-anak di bawah umur. Tentu hal tersebut akan mempengaruhi pemikiran dan perkembangan psikis mereka, mengingat bahwa anak merupakan peniru yang sangat handal.

Setiap orang tua memang diharuskan untuk selalu memperhatikan anak-anak mereka, mulai dari hal-hal yang kecil hingga hal-hal yang berskala luas. Namun, anak-anak juga terkadang luput dari pengawasan orang tua, terlebih lagi saat mereka berada di luar rumah. Itu semua yang membuat Lembaga Sensor Film menkankan budaya sensor mandiri. Menekankan budaya sensor mandiri di masyarakat memang sangat penting untuk dilakukan. Dengan begitu, setiap orang dapat memilih tayangan yang cocok dan sesuai dengan usia mereka.

awasi anak anda

Budaya Sensor Mandiri Harus dilakukan dari sekarang

Akan tetapi, hal tersebut tetap dikembalikan lagi kepada kesadaran masing-masing individu. Percuma saja jika LSF telah maju tetapi kesadaran masyarakat masih sangat minim. Namun, hal sebaliknya dikatakan oleh Bapak Ahmad Yani Basuki, selaku ketua LSF. Dalam konferensi pers yang memperingati 100 tahun Sensor Film Indonesia, pada 16 Maret lalu, Beliau mengungkapkan bahwa, “Apabila kesadaran sensor mandiri sudah maju, apa pun jenis film yang masuk tidak akan menyebabkan masalah.”

Akan tetapi, pada pihak yang benar kita juga tidak boleh menyalahkan LSF karena selama ini mereka terus berusaha meningkatkan kesadaran sensor mandiri lewat iklan, diaolog, hingga kampanye walau hasil yang didapatkan tetap nihil. Selain itu, sebelumnya mereka juga telah melakukan banyak hal untuk mengatasinya. Salah satunya adalah dengan memasang simbol klasifikasi rating acara televisi dengan BO (Bimbingan Orangtua), tetapi hal tersebut juga tidak memberikan hasil yang signifikan karena masih banyak orang tua yang memperbolehkan anak-anak mereka untuk melihat acara yang sebetulnya tak pantas dilihat oleh anak-anak.

batasi anak nonton

Atas semua dasar itulah yang membuat LSF tekankan pentingnya budaya sensor mandiri dengan lebih gencar lagi dari yang sebelum-sebelumnya. Di balik itu semua, mereka pasti menginginkan hasil yang besar dan lebih baik lagi. Adapun upaya yang masih mereka terapkan untuk saat ini adalah dengan membatasi penonton di bawah umur agar tidak melihat hal-hal yang tidak pantas. Salah satunya adalah dengan memasang gambar yang buram untuk menutupi senjata tajam, rokok dan beberapa bagian tubuh pamain film yang tak seharusnya dilihat oleh anak-anak di bawah umur. Kemudian, pihak LSF juga memberikan sensor untuk setiap kata-kata yang seharusnya tidak didengar oleh anak-anak.

Tindakan LSF memang pantas untuk diacungi jempol, walaupun terkadang ada beberapa orang yang tidak setuju dengan tindakan mereka. Bahkan, orang-orang tersebut adanya sensor film dapat merusak keindahan atau estetika video, gambar hingga suaranya. Namun, sebagai masyarakat sebaiknya kita mendukung apa yang dilakukan oleh LSF karena hal tersebut sangatlah berguna untuk membentuk pribadi generasi penerus bangsa dengan lebih baik lagi.

Kemajuan teknologi yang semakin lama semakin berkembang pesat, membuat banyak sekali tontonan yang bisa diakses oleh semua pihak. Oleh karena itu LSF tak hanya bergerak di dunia pertelevisian dan perfilman saja, melainkan juga bergerak di ranah maya. Sebagai masyarakat Indonesia yang juga berperan sebagai penonton, sudah sepantasnya kita semua mendukung pembuatan sistem LSF tekankan pentingnya budaya sensor mandiri. Pasalnya, itu semua mereka lakukan bukan tanpa pemikiran panjang, mengingat semua yang ada saat ini pasti menimbulkan sebab akibat yang mungkin akan sulit diatasi di kedepannya.

sutoro.web.id
Review
5

Di tunggu ZIPnya gan... :v